Karhutla Kukar Tembus 1.704 Hektare, Water Bombing Dikerahkan ke Lima Kecamatan

img

Pemadaman karhutla menggunakan Water Bombing di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak. (Doc. Pemdes Saliki)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menjadi perhatian seiring luas lahan terdampak yang telah mencapai 1.704 hektare.

Untuk mempercepat penanganan, pemadaman dari udara melalui water bombing mulai dikerahkan ke sejumlah wilayah yang masih memiliki titik api.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Setianto Nugroho Aji, mengatakan pengerahan water bombing dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Operasi tersebut mulai dilaksanakan di wilayah Kukar dengan pola dua sortie dalam sehari, yakni pada pagi dan siang.

Dukungan dari udara ini ditujukan untuk membantu regu pemadam yang masih berjibaku di lapangan.

“Alhamdulillah hari ini sudah dimulai untuk wilayah di Kukar. Satu hari ada dua sortie, pagi dan siang,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis (10/9/2026).

Lima kecamatan menjadi sasaran operasi water bombing, yakni Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja.

Wilayah tersebut menjadi prioritas berdasarkan kebutuhan penanganan dan evaluasi tim di lapangan.

Untuk tahap awal, penyiraman dari udara dilakukan di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak.

Selain Saliki, kawasan Tanjung Limau juga menjadi perhatian karena masih ditemukan titik-titik yang membutuhkan penanganan.

Ia menjelaskan, water bombing tidak dimaksudkan menggantikan peran tim pemadam di darat. Sebaliknya, metode tersebut menjadi dukungan ketika petugas menghadapi lokasi yang sulit dijangkau atau membutuhkan pemadaman lanjutan.

“Ini untuk membantu regu pemadaman yang ada di lapangan, bilamana masih memerlukan pemadaman lanjutan dan ada titik-titik api yang tidak terjangkau. Jadi lebih efisien dan mempercepat penanganan karhutla,” jelasnya.

Efektivitas penyiraman dari udara juga dipantau bersama tim di lapanga, BPBD meminta pejabat wilayah dan relawan yang berada di sekitar lokasi ikut mengamati apakah jatuhan air sudah mengenai titik yang tepat.

Pemantauan tersebut penting karena arah angin dapat memengaruhi posisi jatuhnya air.

Jika penyiraman meleset dari titik api, informasi dari lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pengulangan.

“Karena ada pengaruh pergeseran akibat angin, kami minta tim di lapangan memantau apakah posisi jatuhnya air sudah tepat. Kalau masih bergeser, bisa dilakukan pengulangan,” tuturnya.

Berdasarkan catatan BPBD Kukar, hingga saat ini terdapat 216 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 1.704 hektare.

Dari sisi luasan, Kukar menjadi daerah dengan dampak karhutla terbesar di Kalimantan Timur. Sementara dari jumlah kejadian, Kukar berada di posisi kedua setelah Paser yang mencatat 287 kejadian.

Sementara itu, kondisi di Kecamatan Muara Badak penanganan karhutla dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, relawan, perusahaan hingga tenaga kesehatan.

Camat Muara Badak, Hj. Nurhaeda, mengatakan pihaknya berupaya memastikan setiap laporan titik api segera ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.

“Untuk penanganannya kami upayakan semaksimal mungkin. Kalau ada beberapa titik api, kita lakukan pemadaman,” ujarnya.

Menurutnya, koordinasi lintas sektor terus dilakukan karena penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Selain pemadaman, kondisi kesehatan petugas yang berada di lokasi juga menjadi perhatian.

Ia menyebut pihak puskesmas telah dilibatkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para relawan.

Puskesmas Badak Baru dan Puskesmas Muara Badak Ulu telah diarahkan agar dapat memberikan pemeriksaan apabila relawan mengalami keluhan kesehatan selama menjalankan tugas.

Ia juga mengimbau relawan tidak mengabaikan keselamatan saat melakukan pemadaman, mengingat mereka harus bekerja di tengah kondisi panas dan asap.

“Yang selalu saya ingatkan ketika teman-teman relawan melaksanakan tugas yang sangat mulia ini, tolong diperhatikan kondisi keselamatan dan kesehatannya,” tuturnya.

Untuk operasi water bombing di Desa Saliki, ia mengatakan pelaksanaannya sempat mengalami penundaan dari jadwal awal.

Namun, pada hari pelaksanaan, penyiraman dari udara sudah dilakukan dan telah memasuki sortie kedua.

“Alhamdulillah hari ini ada. Sebenarnya dari kemarin jadwalnya, cuma tertunda. Hari ini sudah dilakukan dan kalau saya monitor ini yang kedua kali. Tadi pagi sudah, ini lanjut yang kedua kali di Desa Saliki,” kata dia.

Adapun mengenai luas lahan yang terbakar di Muara Badak, ia menyebut datanya masih dapat berubah karena proses pendataan di lapangan terus berjalan.

Laporan sebelumnya mencatat luas sekitar 107,5 hektare, kemudian berkembang menjadi lebih dari 200 hektare.

“Data itu berjalan, karena kondisi di lapangan. Kurang lebih data tersebut akumulasi satu bulan dan laporan terakhir yang saya dapat itu tanggal 2 September kurang lebih 200 hektar,” pungkasnya. (kriz)