Peran Guru Sebagai Pendidik Dimasa Transisi Menuju Endemi

img

Ady Suria Nata, S.E

PROFESI keguruan merupakan profesi yang sedang berkembang. Guru memiliki banyak jenis , antara lain adalah guru dalam suatu instansi pendidikan, guru mengaji, guru dalam lembaga kursus, guru beladiri dan lainnya.

Dalam hal ini saya akan menitikberatkan pada peran guru dalam suatu instansi pendidikan. Bagi seorang guru, pengetahuan tentang profesi keguruan harus benar-benar dimiliki untuk meningkatkan profesionalitas dalam menjalankan tugas.  Seorang guru bisa dikatakan sebagai suatu profesi apabila ia memiliki pernyataan dasar, keterampilan teknik serta didukung oleh sikap kepribadian yang mantap.

Seorang guru professional harus memiliki kompetensi sebagai berikut [1] :

1.     Kompetensi professional

2.     Kompetensi personal

3.     Kompetensi social

4.     Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya

Ke empat hal diatas merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terlebih pada masa pendemi ini, guru dituntut memiliki ke empat hal diatas dan ditambah lagi kemampuan penguasaan teknologi , baik dalam mengoperasikan komputer atau dalam hal pengoperasian smartphone yang berbasis android atau pengelolaan jejaring sosial.

Seorang guru memiliki peranan profesional yang mencakup tiga bidang, yaitu layanan instruksional, layanan administrasi dan layanan bantuan akademik-sosial-pribadi.

Layanan Instruksional merupakan tugas utama guru sedang layanan administrasi dan layanan bantuan merupakan pendukung. Pertama , penyelenggaraan proses belajar mengajar yang menempati porsi terbesar dalam keguruan.

Kedua, tugas yang berhubungan dengan membantu murid dalam mengatasi masalah belajarnya.

Ketiga, guru harus memahami bagaimana sekolah itu dikelola.[2]  Sudah jelas bahwa peranan profesional guru yang mencakup tiga bidang diatas bias dilakukan pada masa-masa normal atau tatap muka.

Namun bagaimana pada masa sekarang?, guru dituntut untuk menguasai iptek terutama  di era revolusi industri 4.0. Era 4.0 adalah era dimana menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan, melalui jaringan internet.[3]

Ilmu pendidikan selalu berkembang seiring dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, maupun tuntutan dan ekspektasi masyarakat. Kuantitas dan kualitas sorang guru juga berimbas pada kualitas peserta didik.

Guru harus mengikuti perkembangan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru harus memiliki bekal pengetahuan dan wawasan tentang konsep pembaharuan dalam pendidikan, tentang paradigm pembelajaran terkini agar dapat menjadi agent of change ketika mengajar. Dan berperan sebagai pendidik yang inovatif dan motivatif di era 4.0 ini.

Mau tidak mau guru harus selalu up to date dalam perkembangan dunia digital informasi , terutama dalam hal penguasaan aplikasi berbasis online saat ini. Masa pandemi ini membawa perubahan yang besar dalam dunia pendidikan. Yang tadinya berbasis offline atau tatap muka sekarang berbasis online atau PJJ (pembelajaran jarak jauh).

Ada media yang paling mudah dijangkau yaitu Whats app, dan aplikasi online lainnya seperti google classroom, google form, e learning madrasah dan lain sebagainya.

Ada juga media komunikasi tele conference sperti zoom, Jitsi meet, Google Meet dan aplikasi sejenis yang menunjang pembelajaran online atau daring. Guru dituntut untuk mengusasi itu semua, dan harus mau meng upgrade skill dalam mencari media yang cocok buat peserta didiknya. Guru harus memahami kondisi peserta didiknya dimana  saat ini Indonesia sudah berada dalam fase transisi untuk menuju ke endemi., karena tidak semua peserta didik memiliki smartphone dengan spesifikasi yang mumpuni.

Ketidak cocokan media online yang digunakan juga akan berimbas kepada tertanggunya proses belajar mengajar pada masa daring. Misal smartphone siswa jika menggunakan aplikasi yang memiliki kapasitas memori besar akan menjadi eror  jika menggunakan aplikasi zoom, dalam hal ini guru harus cerdas dalam melihat kemampuan pengelolaan media online yang efektif. Carilah aplikasi yg mudah dijangkau semacam Whats Appp, adakan umpan balik dalam grup siswa di WA. Intinya jika dalam kelas seorang guru harus smart dalam pengelolaan kelas, namun dalam pembelajaran daring guru harus smart dalam pengelolaan kelas online.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Artinya siapa saja harus terus belajar tidak peduli tua atau muda. Apakah itu guru atau murid.

Guru juga harus menanamkan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran daring termasuk adab dalam menyampaikan pembelajaran, serta sesi Tanya jawab dari murid ke guru secara online, demikian sebaliknya. Al Quran sendiri banyak menjelaskan tentang pendidikan Islam seperti di surat Al Lukman ayat 13 yang artinya: 

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Dalam pembelajaran daring orang tua juga sangat memegang peranan penting, orang tua bersinergi dengan para guru lewat komunikasi online karena orang tua lebih banyak bersama anaknya di rumah dalam mendampingi pembelajaran.

 

Takhroji Aji mengungkapkan bahwa Pendidikan karakter melalui  sekolah  jarak jauh di saat peserta didik sedang school from home (sekolah  dari rumah) dapat tetap dikawal dan dikontrol oleh para guru.

Salah satunya dengan memberikan lembar control karakter. Ada banyak karakter positif yang dapat dikembangkan oleh guru sesuai kompetensi inti dari kurikulum 2013 seperti memiliki sifat relijius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri, dll. Guru dapat mengembangkan lembar kontrol untuk diberikan kepada peserta didik dan untuk orang tua. Lembar kontrol tersebut dinilai  oleh guru, setelah  itu guru memberikan umpan balik. 

Guru kemudian menguatkan karakter yang sudah baik dan mengubah karakter yang masih tidak sesuai. Guru dapat pula memberikan penghargaan (prizing) kepada siswa yang berprestasi setidaknya dengan mengucapkan selamat (congratulation) di group WA peserta didik, dan memberikan hukuman (punishment) melalui WA jalur pribadi agar nama baiknya tetap terjaga dan anak tidak merasa direndahkan di depan teman – temannya.

Peserta didik juga dapat diberikan ucapan selamat jika mengerjakan tugas tepat waktu dan diberikan hukuman jika terlambat mengerjakan tugas sebagai bentuk penanaman karakter disiplin. Ketika ada kabar seorang peserta didik tidak dapat mengerjakan tugas karena tidak memiliki kuota internet, maka guru dapat mengajak teman – teman kelasnya untuk mentransfer pulsa sebagai bentuk penanamna karakter empati dan peduli.

Guru dan wali kelas harus selalu mengkontrol setiap kata yang ditulis oleh peserta didik di dalam group WA anak2 sebagai bentuk penanaman karakter sopan dan antun dalam berucap dan bertanggung jawab atas semua ucapan dan perbuatan mereka. Pendidikan karakter di masa learn from home (belajar dari rumah) ini harus tetap dikawal dan diawasi oleh guru.

Tanggung jawab pendidikan karakter ada di tangan kita bersama demi mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun  manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia Indonesia yang memiliki keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur, memiliki kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menguasai ilmu pengetahuan, serta memiliki kecakakapan dan keterampilan demi Indonesia unggul.[4]

Guru tentunya harus memiliki kemampuan yang lebih dari muridnya paling tidak harus selalu belajar dan mau belajar mengikuti, melihat serta memahami perkembangan yang terjadi sekarang ini terlebih di era teknologi yang semakin canggi.

Paling tidak seorang guru harus selalu mencari informasi, data, pengetahuan dan ilmu baru di masa era teknologi sekarang jika tidak mau ketinggalan atau kalah dengan sang murid. Terlebih sekarang ini di zama era teknologi yang semakin canggih jelas dituntut seorang guru yang mampu mencari atau membuka wawasan baru bukan hanya melalui buku bacaan dan pengetahuan yang banyak bertebaran di perpustakaan namun juga harus handal dalam membuka maupun mencari limu, pengetahuan dan lainnya melalui Handphone, jaringan internet serta teknologi lainnya. Sekarang setiap detik semua anak sudah dapat mengakses berbagai macam pengetahuan, ilmu serta lainnya melalui Handphone jadi wajar jika seorang guru juga harus paham dengan teknologi terkinian itu.

Jika tidak mau dikatakan ‘jadul’. Karena bila tidak tentunya guru akan kalah terhadap tingkat keilmuan muridnya karena sumber belajar saat ini sudah bertebaran di dunia maya.

Oleh karena itu guru di era melenial atau teknologi yang serba canggih ini diwajibkan guru harus memahami semua itu dan seorang guru tentunya tidak boleh kalah dari murid. Guru harus selalu “ready update”. Seorang guru bisa dikatakan sebagai guru ‘zaman now bukan guru ‘zaman old’ bila mampu berperan lebih di era milenial ini atau anak sekarang bisa menyebutkan jangan Gagap Teknologi  atau Gaptek.(Penulis: Ady Suria Nata, S.E, Guru MTs N 1 Kutai Kartanegara)