Nurhadi Sebut Perjuangannya Menjadi Timses Baltim Dikecewakan
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,BALIKPAPAN-
Pasca
kemenangan dan dilantiknya Rahmat Mas'ud sebagai Wali Kota Balikpapan periode
2020 - 2024, salah satu yang masih menjadi pertanyaan masyarakat Balikpapan
Timur (Baltim) yaitu mengenai nasib pembangunan rumah sakit yang dijanjikan.
Menyikapi hal itu, Anggota Komisi 3 DPRD
Balikpapan Nurhadi Saputra menjelaskan, sejak beliau menjadi wakil wali kota
mendampingi Rizal Effendi, kemungkinan ia satu-satunya anggota dewan dari
Baltim yang selalu menyampaikan hal ini setiap pandangan fraksi, mulai dari LPJ
pertanggungjawaban wali kota hingga pandangan fraksi lainnya.
"Saat itu Fraksi PPP tergabung dengan
Fraksi Nasdem, saya selalu memasukkan bahasa tentang kebutuhan rumah sakit di
Baltim, padahal saat itu ketuanya masih pak Rizal," ucap Nurhadi saat
ditemui awak media di ruang komisi III DPRD, Senin (13/6/2022).
Dirinya mengaku, bahwa sempat ditelpon dengan
Rizal lantaran sempat keras, karena selama 2,5 tahun di komisi IV selalu
mempertanyakan ke Dinas Kesehatan mengenai nasib pembangunan rumah sakit di
Baltim. Dan kenyataannya tidak ada dalam visi misinya wali kota.
"Itu yang betul-betul seperti menampar
saya, seolah-olah perjuangan saya menjadi timses Baltim dikecewakan. Kalau kebutuhan lain saya
tidak begitu menekankan karena setiap tahun ada anggarannya," ujarnya.
Dikatakan, bahwa dari 6 kecamatan di Balikpapan
hanya Baltim yang belum memiliki rumah sakit. Padahal jumlah penduduknya
mencapai 92.000 penduduk, dan 10-15 persen perbulan. Tidak sampai situ, ia juga
mendapat jawaban mengecewakan dari wali kota sebelumnya, bahwa daerah Baltim
cukup dilayani oleh Puskesmas 24 jam.
"Mengapa dibedakan dengan wilayah lain
yang punya rumah sakit. Tapi Baltim kok cuma disiapkan Puskesmas 24 jam yang
sesungguhnya banyak kekurangannya, pertama ambulans cuma satu, tenaga
kesehatannya tidak siap jika sampai dirujuk juga akhirnya," akunya.
Ditambah Baltim juga berbatasan langsung
dengan wilayah Ambarawang, Samboja, selok api yang mana mereka lebih memilih ke
Balikpapan untuk mencari pusat kesehatan. Dan terbantunya di Baltim ini karena
memiliki rumah sakit swasta, tetapi tidak menutup kewajiban pemerintah kota
untuk tetap mengadakan rumah sakit di Baltim.
Bahkan terakhir sebelum Pilkada, ia bersama
Iwan Wahyudi dan Ardiansyah sempat menghadap Rahmad. Saat diberikan kesempatan
bicara, ia langsung pertanyakan rumah sakit di Baltim.
Jika disana terbangun selama ia menjabat, ia
akan oldout menjadi timses sebelum diantar pendaftarannya ke KPU.
"Saya tidak minta macam-macam, cuma
minta rumah sakit di Timur. Dan saya siap jadi juru bicara, makanya di Banner
kampanye saya, kalau mau ada rumah sakit di Baltim pilih Rahmad-Thohari, sesuai
janji pak Rahmad pada saya," janjinya.
Namun seiring berjalannya waktu saat ia masih
duduk di komisi II, ternyata pembangunan rumah sakit dilakukan di Barat bukan
Timur. Akhirnya ia memastikan sendiri lokasinya, dan ternyata hanya setengah
heaktare mau dipaksakan dibangun rumah sakit.
"Saat itu saya langsung telpon Bappeda
pak Agus, dan saya tanya kelayakan beliau menjawab tidak layak karena lokasi
5000 meter dipaksakan dibangun tujuh lantai. Pantasan sampai harus multiyes 3
tahun," imbuhnya.
Lanjutnya, selama 3 tahun ia pastikan tidak
ada pembangunan di Baltim. Dan wali kota menjanjikan jika tahun depan Puskesmas
Haji Raden akan menjadi paling besar, meski begitu tetap saja puskesmas yang
tidak lengkap sarana dan prasaranannya, meskipun dianggarkan Rp 10-50 miliar.
Sebenarnya untuk di Baltim, Pemkot memiliki
lahan sekitar 62 heaktare tanpa harus melakukan pembebasan lahan. Namun tidak
juga dibangun rumah sakit, tetapi wali kota ingin puskesmas yang ada dibangun
ke belakang dan vertikal.
"Saya jawab terserah, yang penting Puskesmas
saya dibangun. Bahkan saat pembahasan anggaran tahun 2022, progres yang
dijanjikan yaitu studi kelayakan dengan anggaran sekitar Rp 300-400 juta,"
paparnya.
Harapan yang pasti pingin ada keseriusan dari
wali kota karena janji adalah hutang. Apalagi ada 92 ribu orang yang
berharap-harap cemas. Kalau wali kota bisa memberikan pembangunan meskipun
hanya pondasi awal, minimal warga Baltim punya harapan yang besar.
Semoga wali kota membaca kalau waktu
pembangunan hanya sampai 2023, sementara 2024 sudah jadi tahun politik lagi.
Jangan sampai di 2024 menjadi penghakiman warga Baltim dengan janji-janjinya.
"Karena begitu besarnya harapan warga
Baltim untuk pembangunan rumah sakit, sehingga presentasi suaranya sampai
melebihi Balikpapan Barat," harapannya.
Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
membuktikan hanya di tahun 2022-2023. Apakah hanya sebatas wacana atau
betul-betul bisa menunjukkan berupa fisik.
Ditambah lagi penambahan anggaran rumah sakit
di Balikpapan Barat belum deal di Banggar DPRD Balikpapan. Mereka merasa
dibohongi, karena awalnya Rp 162 miliar menjadi Rp 191 miliar, ada penambahan
Rp 29 miliar. Dan Rp 29 miliar itu hanya pembangunan fisik dan penambahan fisik
dan izin-izinnya.
"Sesuai perkiraan saya, bahwa di Rp 29
milliar itu ada penambahan izin reklamasi. Makanya saya katakan dari awal tidak
layak, bukan karena iri tetapi saya harus berbicara secara realistis. Izin
reklamasi harus tanda tangan Presiden," tuturnya.
Teman-teman banggar pun juga masih
mempertanyakan dan belum ada kata sepakat. Dan rapat terakhir banggar fraksi
PDI, Gerindra, Demokrat tidak sepakat, tetapi PPP masih belum memberikan
jawaban karena saat itu belum berkomunikasi dengan ketua fraksi.
"Jadi waktu itu saya tidak bisa
mengatakan apa-apa, karena belum ada komunikasi dengan ketua fraksi,"
ungkapnya. (ari)