Tidak Cukup Dokter untuk Dimobilisasi
Iswahyudi
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG
REDEB-
Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau
menyatakan mobilisasi dokter harus memperhatikan kebutuhan wilayah.
Pasalnya, jumlah dokter yang terbatas di
setiap wilayah menjadi pertimbangan untuk merealisasikan hal tersebut.
Menanggapi usulan Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Wilayah Kalimantan Timur mengenai mobilisasi dokter, Kepala Dinas
Kesehatan Berau, Iswahyudi, menyatakan, sangat beresiko apabila memobilisasi
para dokter ke wilayah zona kuning atau zona merah.
Pasalnya, melihat dari jumlah tenaga kesehatan
di zona kuning atau zona merah malahan lebih banyak ketimbang yang ada zona
hijau."Untuk zona merah atau kuning ini rata-rata wilayah kota, justru
jumlah dokter lebih banyak disini, ada yang freelance dan ada yang swasta.
Sementara di wilayah zona hijau seperti Segah itu jumlah dokternya hanya 1 atau
2 saja yang bertugas di puskesmas," ujarnya,Rabu (16/2/22).
Sehingga apabila dimobilisasi akan sangat
beresiko untuk masyarakat yang ada di wilayah zona hijau. Karena masalah
kesehatan bukan hanya soal COVID-19 saja, melainkan ada juga penyakit lain atau
kebutuhan lain dimana seorang dokter harus bertugas.
"Kalau dimobilisasi mereka bisa tidak
mendapatkan pelayanan kesehatan di sana sementara di sini banyak dokter, jadi
jangan liat zonanya, liat kepentingannya seperti apa keperluaanya,"
tambahnya.
Dikatakan Iswahyudi, justru yang perlu
dilakukan seharusnya mobilisasi pasien ke wilayah terjangkau dimana sebelumnya
dilakukan pemilahan terlebih dahulu. Seperti di Rumah Sakit Talisayan, apabila
diperlukan untuk memobilisasi pasien ke tempat tersebut maka hal itu yang akan
dilakukan apabila tidak ada ruang di zona kuning, atau apabila kekurangan
dokter.
"Seperti misalnya pasien di pesisir,
maka kita rawat di sana, supaya mereka tidak jauh ke sini dan waktu penanganan
juga lebih efektif," lanjutnya.
Akan tetapi, mobilisasi dokter ini bukan
berarti tidak akan diterapkan sama sekali. Dinkes menyatakan apabila dalam hal
urgent yang memungkinkan tidak ada pilihan lagi, maka mobilisasi perlu
dilakukan.
"Namun, itu tetap harus dipertimbangkan
dengan matang karena resikonya besar, mereka tidak hanya menangani COVID-19,
tetapi juga ada ibu hamil, pasien dengan penyakit lain yang harus segera
ditangani itu yang harus dipikirkan," terangnya.
Pilihan mobilisasi dokter bisa dibilang
sebagai opsi terakhir. Dinkes Berau justru mengusulkan ketimbang harus
melakukan hal itu, seharusnya juga pihak IDI agar dapat mengirim relawan dokter
apabila kondisi sangat darurat.
"Itu yang tepat karena kita bicara
kebutuhan di setiap wilayah. Berau ini sangat luas dengan keterbatasan dokter
yang ada,"tutupnya.(sep)