Semua Pihak Harus Bersinergi Hadapi Pandemi Ini
(dr Martina Yulianti)
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara yang
juga merupakan Plt Direktur Utama RSUD AM Parikesit Tenggarong dr Martina
Yulianti, mengeluarkan pernyataan terkait kondisi penanganan Covid-19, bahwa
untuk penyelesaian penanganan pandemi perlu kerjasama dan tanggungjawab bersama.
Berikut pernyataan dr Martina Yulianti yang
secara resmi diposting pada akun media sosial facebook pribadinya, pada Kamis
(22/7/2021).
Saudara2ku
sekalian, terima kasih atas berbagai responnya…
Perlu
saya jelaskan apa yang melatarbelakangi saya menyampaikan postingan di akun
pribadi saya yang kemudian di re-share oleh beberapa media online pada website
ataupun media sosial baik nasional, regional serta lokal.
Kebetulan
saya mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Kesehatan dan Plt. Direktur RSUD A.
M. Parikesit Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Amanah yang sangat tidak ringan dimasa pandemi seperti saat ini.
Saya
dan teman-teman NAKES bertugas di garda
depan sekaligus menjadi benteng terakhir penanggulangan COVID-19, karena
bersama teman-teman Puskesmas melaksanakan kegiatan Tracing dan Testing serta
bersama Rumah Sakit melaksanakan kegiatan Testing dan Treatment.
Dengan
demikian, praktis saya terjun dalam penanganan pandemic ini mulai dari
seseorang baru menjadi Kontak Erat (suspek) sampai seseorang mungkin mengalami
kejadian buruk (mengalami COVID berat-kritis sampai meninggal dunia).
Sehari
- hari saya menyaksikan masyarakat yang
tertular COVID-19 ini karena berbagai sebab dan kondisi. Penderitaan yang
mereka alami dari yang ringan sampai yang meninggal dunia. Ada yang tertular
karena memang ceroboh tidak mau melaksanakan Protokol Kesehatan namun banyak
juga yang tertular karena menjadi kontak erat dari seseorang anggota
keluarga/teman yang ceroboh terhadap PROKES.
Karena
tidak mungkin ber-PROKES didalam rumah, sehingga jika ada seorang dari anggota
keluarga yang ceroboh diluar, dialah yang akan membawa virus ke keluarga
tersebut. Ini yang menyebabkan klaster keluarga.
Saya
juga menyaksikan bagaimana rekan-rekan saya para NAKES berjuang dalam penanganan pasien, mereka
memenuhi panggilan jiwa (calling-nya) sebagai insan kesehatan meskipun bisa
saja membuat mereka tertular, lalu sakit bahkan bisa saja meninggal dunia.
Sebagai “ ibu” mereka saya selalu memberi semangat dan berusaha hadir ditengah2
mereka meskipun tidak selalu dapat hadir secara fisik.
Mereka
juga manusia biasa, punya anak,istri,suami dan orangtua, mereka juga memiliki
kecemasan dan ketakutan yang sama dengan warga masyarakat, namun kami menyadari
di pundak kami tanggung jawab itu ada. Kegiatan tracing-testing-treatment
sampai mengurus pemulasaran jenazah hingga pemakaman kami lakukan. Kami
menyaksikan korban COVID-19 setiap hari, tangisan pilu keluarga yang
ditinggalkan dengan mendadak. Beberapa teman sejawat, tenaga medis di Kabupaten
dan Kecamatan-kecamatan pun akhirnya ada yang tertular, ada yang meninggal dan
ada yang mengalami dampak panjang dari COVID-19 yang hingga sekarangpun masih
dirasakan.
Sekarang,
pada pandemi gelombang kedua yang ditengarai oleh varian baru virus corona,
kami berjuang dengan segala sumberdaya yang kami miliki untuk dapat menangani
lonjakan pasien COVID-19 yang diluar perkiraan kita semua.
Pada gelombang
kedua ini, penularan sangat cepat terjadi dan perburukan penyakit juga terjadi
sangat cepat sehingga pasien yang meninggal sangat banyak dibanding Pandemi
gelombang pertama.
Pemerintah
Daerah telah melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai penularan
dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan publik.
Kami
berterima kasih atas niat baik dan komitmen yang tinggi dari pemerintah dalam
hal penanggulangan pandemi di Kutai Kartanegara.
Namun,
di sisi lain kami kecewa dengan sebagian kecil masyarakat yang dengan sengaja
membuat statement-statement terkait pandemi COVID-19 dengan versi dan pemahaman
nya sendiri yang kemudian mempengaruhi masyarakat luas sehingga banyak
masyarakat yang masih tidak mematuhi aturan pemerintah berkaitan dengan
PROTOKOL KESEHATAN.
Mereka
abai terhadap resiko yang potensial menimpanya yang membawa kepiluan bagi kita
semua. Kita telah saksikan berapa banyak keluarga yang kehilangan pasangan,
anak, dan orang tua. Beberapa anak menjadi yatim piatu dan sungguh berat
melihat mereka tanpa pembimbing, penyangga ekonomi, dan panutan dalam hidup
mereka.
Hal
yang lebih mengecewakan kami adalah sebagian dari masyarakat tidak mempercayai
adanya virus ini dengan tuduhan kondisi ini diciptakan by design sebagai bagian
dari konspirasi ekonomi atau politik.
Bahkan
berbagai tuduhan terhadap Rumah Sakit. Kami tidak mempersoalkan keyakinan yang
seperti itu. Namun perlu kami jelaskan bahwa tenaga medis adalah kalangan
profesional yang terdidik secara scientific berdasarkan logika ilmiah yang
bekerja dengan Standard Operational Procedure yang terukur dan Reliable.
Saya
menulis postingan seperti yang Ibu/Bapak/Saudara/Saudari respons berangkat dari
keprihatinan dan tanggung jawab saya sebagai sesama manusia, sebagai seorang
perempuan, sebagai ibu, dan sebagai pimpinan dari Institusi kesehatan.
Dalam
postingan tersebut saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk menyelesaikan atau
paling tidak mereduksi resiko dari pandemi ini adalah perlunya kerjasama dan
tanggung jawab bersama pihak dalam menjalankan Protokol Kesehatan yang telah
disampaikan tiada henti pada banyak publikasi dari Pemerintah ataupun NGO
ataupun pihak swasta, dan masyarakat sendiri.
Saya tidak berniat menakut-nakuti tapi itulah
kondisi yang sesungguhnya kita hadapi, apakah kita suka atau tidak, apakah kita
berani atau tidak. Saya ingin kita
bersama melihat kondisi secara obyektif bahwa gelombang kedua berbeda dengan
gelombang pertama (lihatlah postingan-postingan saya disaat gelombang pertama,
BEDA…karena kondisinya memang sangat berbeda). Saya pun tidak bermaksud
menyampaikan pesimisme karena saya menyayangi kita semua dengan segenap
kemampuan yang saya punya.