Penyaluran Pertalite di Berau Tembus 226 Ribu Liter dalam Dua Hari, Tapi Antrean SPBU Masih Mengular

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Berau masih menjadi pemandangan dalam beberapa hari terakhir. Padahal berdasarkan data Pertamina di mana penyaluran Pertalite justru melonjak jauh di atas rata-rata harian.

 

PT Pertamina Patra Niaga mencatat penyaluran Pertalite melalui SPBU di Berau mencapai 226 kiloliter (KL) atau sekitar 226 ribu liter hanya dalam dua hari, yakni pada 21 dan 22 September 2026.

 

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata penyaluran Pertalite yang selama ini berada di kisaran 72 hingga 88 KL per hari. Pada 21 September, Pertamina menyalurkan 100 KL Pertalite melalui SPBU. Sehari berselang, volumenya meningkat menjadi 126 KL.

 

Jika dibandingkan dengan rata-rata harian sebelumnya, penyaluran tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan. Namun, peningkatan pasokan itu belum serta-merta membuat antrean kendaraan di sejumlah SPBU hilang.

 

Di sinilah persoalan BBM di Berau menjadi menarik, ketika volume penyaluran meningkat dan  mengapa antrean masih terjadi.

 

Sales Branch Manager (SBM) III Fuel Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Bagus, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan antrean tidak bisa hanya dilihat dari sisi ketersediaan stok.

 

“Stok dan penyaluran sebetulnya sangat oke dibandingkan sebelumnya,” kata Hermawan.

 

Selain Pertalite, Pertamina juga mencatat penyaluran Pertamax melalui SPBU pada 21 September mencapai 74 KL. Sementara penyaluran Pertamax melalui Pertashop tercatat 17 KL.

 

Pada 22 September, penyaluran Pertamax melalui SPBU berada di angka 50 KL dan melalui Pertashop mencapai 21 KL.

Pertamina juga merencanakan penyaluran pada 23 September, dengan Pertalite melalui SPBU sebanyak 100 KL, Pertamax melalui SPBU 58 KL, serta Pertamax melalui Pertashop sebanyak 18 KL.

 

Data tersebut menunjukkan bahwa distribusi BBM ke Berau tetap berjalan dan bahkan volumenya ditingkatkan pada saat antrean masih menjadi perhatian masyarakat.

 

Hermawan mengatakan kondisi penyaluran BBM di Berau perlu dilihat secara utuh dengan membandingkan antara stok, volume penyaluran, dan pola pembelian masyarakat di lapangan.

 

Menurutnya, telah terjadi perubahan pola pembelian Pertalite dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, pembelian Pertalite disebut lebih banyak berada di kisaran 25 liter. Namun setelah batas pembelian disesuaikan menjadi 40 liter, kondisi di sejumlah SPBU justru menunjukkan fenomena berbeda.

 

Perubahan tersebut kini menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi bersama. Pertamina menyatakan data penyaluran di masing-masing SPBU dapat dibuka untuk menjadi bahan evaluasi Pemkab Berau dan pihak terkait.

 

Data itu diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.

 

“Kita lihat bersama, apakah dengan penyaluran sebanyak ini antrean masih terjadi atau ada fenomena lain,” ujar Hermawan.

 

Persoalan antrean BBM di Berau sendiri telah menjadi perhatian dalam beberapa pekan terakhir. Tingginya permintaan membuat distribusi BBM di wilayah tersebut menghadapi tekanan.

 

Hermawan bahkan menyebut kondisi penyaluran BBM di Berau termasuk yang paling berat secara nasional setelah Makassar. Karena itu, Pertamina meminta pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat melihat persoalan tersebut tidak hanya berdasarkan panjangnya antrean yang terlihat di SPBU, tetapi juga berdasarkan data penyaluran aktual.

 

Dengan melihat kedua sisi tersebut, evaluasi diharapkan dapat menjawab persoalan yang berkembang di lapangan: apakah antrean terjadi karena pasokan yang belum mencukupi, tingginya permintaan, perubahan pola pembelian, atau terdapat faktor lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Pertamina menegaskan, keterbukaan data penyaluran dapat menjadi dasar evaluasi bersama agar persoalan distribusi BBM di Berau tidak hanya dinilai berdasarkan kondisi antrean secara kasatmata. “Harapannya, stok dan penyaluran kita di lapangan bisa dilihat bersama,” pungkas Hermawan. (sep/FN)