DPMD Kukar Perkuat Peran Desa dalam Percepatan Penanganan Stunting
Pemberian makanan
tambahan sebagai salah satu upaya penurunan stunting di salah satu Posyandu di
Kukar. (Istimewa)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kutai Kartanegara (Kukar) memperkuat peran pemerintah desa dalam percepatan penanganan stunting.
Penguatan dilakukan
dengan memastikan penanganan stunting masuk dalam perencanaan dan penganggaran
desa sehingga intervensi dapat berjalan hingga tingkat masyarakat.
Kepala DPMD Kukar,
Arianto mengatakan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh
tingkatan pemerintahan, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten,
kecamatan hingga desa.
Ia menjelaskan, desa
memiliki sumber pendanaan melalui transfer pemerintah, di antaranya Dana Desa
yang bersumber dari APBN serta Alokasi Dana Desa (ADD) yang berasal dari APBD.
Kedua sumber
pendanaan tersebut menjadi bagian dari dukungan pembiayaan yang dapat digunakan
untuk menjalankan program prioritas, termasuk penanganan stunting.
DPMD Kukar kemudian
mengawal proses perencanaan di desa agar tersedia anggaran untuk mendukung
intervensi stunting.
Langkah tersebut
dilakukan karena penanganan stunting merupakan salah satu program prioritas
nasional yang perlu diterapkan hingga tingkat desa.
“Kita selalu mengawal
desa itu harus menganggarkan ada anggaran yang digunakan untuk penanganan
stunting,” ujarnya saat ditemui di Gedung Serbaguna Kantor Bupati Kukar pada
Jumat (18/9/2026).
Ia mengatakan
intervensi yang dilakukan desa dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Bentuknya antara lain
pemberian makanan tambahan dan kegiatan sosialisasi mengenai penanganan
stunting.
“Misalnya pemberian
makanan tambahan, pemberian untuk sosialisasi bagaimana penanganan stunting,”
jelasnya.
Menurutnya,
keberadaan anggaran di tingkat desa menjadi salah satu bagian penting dalam
memastikan program penanganan stunting dapat dilaksanakan secara langsung di
tengah masyarakat.
Desa juga memiliki
ruang untuk menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan warganya.
Sementara itu, Kepala
Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Desa DPMD Kukar, Deddy Setyo Utomo,
mengatakan upaya penurunan stunting di Kukar menunjukkan perkembangan positif
dalam beberapa tahun terakhir.
Penilaian terhadap
upaya penanganan stunting dilakukan setiap tahun oleh Pemerintah Provinsi
Kalimantan Timur.
Dalam penilaian
tersebut, Kukar disebut termasuk daerah dengan tingkat intervensi yang tinggi.
“Kalau penurunan
stunting, setiap tahun memang kita dinilai oleh pemerintah provinsi. Kita
termasuk yang paling tinggi dalam penurunan stunting,” ujarnya.
Meski demikian,
capaian intervensi tersebut tidak berarti persoalan stunting telah sepenuhnya
selesai, kasus stunting masih ditemukan di sejumlah titik di wilayah Kukar.
Selain penguatan
intervensi, ia menilai edukasi kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, pemahaman
masyarakat mengenai stunting belum sepenuhnya merata, termasuk mengenai kondisi
anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.
“Karena terkadang
pemahaman masyarakat kita terhadap stunting masih belum teredukasi dengan baik.
Stunting itu seperti apa dan bagaimana kondisi fisik anak yang mengalami
stunting, kadang masih belum dipahami dengan baik,” ungkapnya.
Karena itu,
penanganan stunting membutuhkan kesinambungan antara penganggaran, pelaksanaan
intervensi dan edukasi masyarakat.
Pemerintah desa
menjadi salah satu ujung pelaksanaan program karena berhadapan langsung dengan
masyarakat dan keluarga sasaran.
Ia menyebut,
pemerintah desa di Kukar pada umumnya telah melakukan berbagai upaya untuk
mendukung penanganan stunting di wilayah masing-masing.
“Kalau dari sisi
penanganan, rata-rata masing-masing pemerintah desa sudah melakukan upaya
secara maksimal,” pungkasnya. (Adv/Kriz)