Diskoperindag Berau Ungkap Kuota BBM Subsidi yang Diterima Jauh di Bawah Kebutuhan
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita.
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Terjadinya
antrean BBM di sejumlah SPBU di Kabupaten Berau belakangan ini bukan hanya soal
keterlambatan distribusi, namun juga merupakan dampak dari terbatasnya kuota
yang diterima Kabupaten Berau.
Dinas Koperasi,
Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau mengungkap ada selisih
cukup besar antara kuota BBM subsidi yang diusulkan Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Berau dengan kuota yang akhirnya disetujui untuk 2026.
Total kebutuhan
Pertalite dan Biosolar yang diusulkan Pemkab Berau mencapai 120.342 kiloliter (KL).
Hal ini diungkap Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, dalam rapat dengar
pendapat (RDP) yang membahas persoalan pasokan dan alokasi BBM di Ruang Rapat
Gabungan Komisi Sekretariat DPRD Berau, Senin (7/9/2026).
Eva membeberkan,
Pemkab Berau sebelumnya mengusulkan kuota Pertalite sebesar 83.201 KL. Namun,
kuota yang disetujui hanya 47.312 KL. Sementara itu, untuk Biosolar, usulan
pemerintah daerah mencapai 37.141 KL, sedangkan kuota yang disetujui hanya
25.895 KL.
Jika kedua jenis BBM
tersebut digabungkan, kebutuhan yang diajukan Pemkab Berau mencapai 120.342 KL.
Sementara kuota yang tersedia berdasarkan persetujuan hanya 73.207 KL, terdapat
selisih sekitar 47.135 KL.
“Persoalannya, kuota
yang akhirnya disetujui berada di bawah kebutuhan yang diajukan. Padahal
aktivitas masyarakat dan kebutuhan BBM di Berau terus berjalan,” kata Eva.
Menurut Eva,
pengajuan kuota BBM dilakukan Pemkab Berau satu tahun sebelumnya. Penyusunan
usulan tersebut telah mempertimbangkan berbagai kebutuhan masyarakat dan sektor
ekonomi di daerah.
Kebutuhan
transportasi, UMKM, nelayan hingga sektor pertanian menjadi bagian dari
perhitungan pemerintah daerah dalam mengajukan kuota.
“Kewajiban kami
membuat usulan satu tahun sebelumnya berdasarkan berbagai komponen kebutuhan.
Kebutuhan itu sudah dihitung berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah,”
jelas Eva.
Karena itu,
Diskoperindag menilai perbedaan antara kuota yang diusulkan dan kuota yang
disetujui perlu dievaluasi bersama. Apalagi, persoalan BBM tersebut bukan hanya
menyangkut angka dalam dokumen pengajuan. Dampaknya dapat dirasakan langsung
masyarakat melalui antrean panjang di sejumlah SPBU.
Eva mengatakan
Diskoperindag bersama Pemkab Berau akan terus mendorong evaluasi terhadap kuota
BBM yang diberikan untuk wilayah Berau.
“Kami akan terus
mendorong adanya evaluasi terhadap kuota yang diberikan kepada Berau,” ujarnya.
Selain mendorong
evaluasi kuota, Pemkab Berau melalui instansi terkait juga melakukan pengawasan
terhadap proses distribusi BBM di lapangan. Personel Satpol PP, kepolisian, TNI
dan instansi terkait ditempatkan di sejumlah SPBU untuk memantau penyaluran BBM
agar berjalan tertib.
Langkah tersebut
diharapkan dapat membantu mengendalikan antrean sekaligus memastikan proses
distribusi berjalan sesuai ketentuan. “Harapan kami antrean BBM ini bisa
diatasi dengan baik,” kata Eva.
Tak berhenti pada
pengawasan, pemerintah daerah juga menyiapkan surat edaran sebagai salah satu
upaya mengendalikan distribusi BBM di tengah kondisi pasokan yang terbatas.
Namun, bagi Diskoperindag, penyelesaian antrean tidak cukup jika hanya
dilakukan dengan penanganan di tingkat SPBU.
Evaluasi terhadap
kuota dan koordinasi dengan pihak terkait dinilai menjadi bagian penting untuk
mencari solusi yang lebih berkelanjutan.
“Surat edaran masih
diproses. Kami pun berharap evaluasi dan koordinasi dengan pihak terkait dapat
menghasilkan solusi, bukan sekadar mengatasi antrean secara sementara,” pungkas
Eva. (sep/FN)