Serangan Buaya di Pulau Maratua Kini Jadi Ancaman Serius, DPRD Berau Minta Pemerintah Segera Ambil Tindakan

img

Danau Kuku (Banban), Kampung Teluk Harapan,  Kecamatan Maratua, lokasi terjadinya peristiwa penerkaman seekor buaya terhadap seorang nelayan. (foto: sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Tragedi maut yang merenggut nyawa seorang nelayan di Kampung Teluk Harapan, Kecamatan Maratua, menjadi ancaman serius bagi masyarakat  di pulau wisata kelas dunia tersebut. Serangan buaya di Pulau Maratua yang menelan korban jiwa ini juga menjadi yang pertama kalinya. Untuk mengatisipasi berulangnya peristiwa yang sama, pemerintah didesak segera bertindak sebelum teror predator muara itu kembali memangsa warga.

 

Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menegaskan Pemkab Berau tidak boleh lagi menganggap kemunculan buaya di Pulau Maratua sebagai kejadian biasa. Menurutnya, insiden yang menewaskan nelayan Saifuddin (40) harus menjadi momentum untuk mempercepat langkah mitigasi, mulai dari pendataan populasi buaya, pemetaan habitat, pemasangan peringatan di kawasan rawan, hingga merealisasikan penangkaran buaya yang selama ini hanya menjadi wacana.

 

"Ini memang kejadian pertama di Maratua. Justru karena pertama, jangan sampai pemerintah terlambat mengambil langkah. Harus segera diselidiki berapa populasi buaya di kawasan itu, bagaimana penyebarannya, dan langkah apa yang harus dilakukan agar masyarakat merasa aman. Jangan sampai nelayan kita kembali menjadi korban," tegas Sumadi, Senin (5/7/2026) di kantor Dewan.

 

Sumadi menilai meningkatnya konflik antara manusia dan buaya di Kabupaten Berau menunjukkan penanganan yang selama ini dilakukan belum menyentuh akar persoalan. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan buaya terus terjadi di sejumlah wilayah, mulai kawasan pesisir hingga permukiman warga. Kini, ancaman tersebut bahkan telah mencapai Pulau Maratua yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata bahari unggulan Kalimantan Timur.

 

"Dengan sudah adanya korban, seperti sebelumnya juga terjadi di Merancang, kemudian di wilayah pesisir, sekarang sampai di Maratua. Artinya persoalan ini sudah semakin serius. Pemerintah harus memiliki solusi jangka panjang. Penangkaran buaya harus segera direalisasikan. Kalau memang menjadi kewenangan pemerintah pusat, segera usulkan. Jangan menunggu korban berikutnya baru bertindak," ujarnya.

 

Menurut Sumadi, selain penangkaran, pemerintah juga perlu melakukan edukasi kepada masyarakat pesisir mengenai kawasan yang berpotensi menjadi habitat buaya. Sosialisasi dinilai penting mengingat sebagian besar warga masih menggantungkan hidup dari aktivitas di laut, muara, sungai maupun danau.

 

Sementara itu, bagi keluarga korban, peristiwa tersebut menjadi pukulan berat.  Dimana sebelum peristiwa terjadi, Saifuddin nelayan berusia 40 tahun tersebut berangkat bersama sang istri, Rati (39), pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 13.00 Wita menuju Danau Kuku (Banban), Kampung Teluk Harapan, untuk mencari kerang atau kuku, hasil alam yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga mereka.

 

Setibanya di lokasi, Saifuddin mulai menyelam sementara sang istri menunggu di tepian danau. Dua kali penyelaman dilakukan dan korban selalu kembali ke permukaan dengan membawa hasil.

 

Melihat keranjang mereka mulai terisi, Rati sempat meminta suaminya menghentikan aktivitas dan pulang karena hasil tangkapan dinilai sudah cukup. Namun Saifuddin memilih menyelam sekali lagi. Keputusan itulah yang menjadi penyelaman terakhir dalam hidupnya.

 

Kapolres Berau melalui Kasi Humas Polres Berau, AKP Suradi, menjelaskan pada penyelaman ketiga korban tiba-tiba diterkam seekor buaya berukuran besar.

 

"Korban sempat dua kali menyelam dan kembali ke permukaan dalam keadaan selamat. Saat penyelaman ketiga, korban diterkam buaya," jelas Suradi.

 

Rati yang panik langsung berlari mendekati lokasi. Ia sempat melihat tangan suaminya muncul ke permukaan air. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, ia berusaha meraih tangan korban.

 

Namun jarak yang terlalu jauh membuat upaya penyelamatan gagal. Dalam hitungan detik, tubuh Saifuddin kembali diseret predator tersebut ke tengah danau hingga menghilang dari pandangan. Dalam keadaan syok, Rati berlari menuju permukiman warga meminta pertolongan. Personel Polsek Pulau Maratua bersama anggota TNI dan masyarakat kemudian melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian.

 

Beberapa jam kemudian, jasad korban akhirnya ditemukan sekitar 500 meter dari titik awal serangan di tepian danau dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah langsung dievakuasi dan dimakamkan pada malam harinya. Pihak keluarga memilih tidak dilakukan autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Hermansyah, mengungkapkan insiden ini merupakan serangan buaya pertama yang menelan korban jiwa di Pulau Maratua. Padahal, kemunculan buaya di pulau tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak April 2025 lalu. Saat itu seekor buaya muncul di kawasan Pantai Lumantang dan berhasil diamankan tim gabungan sehingga tidak sempat menimbulkan korban.

 

Meski demikian, keberadaan predator tersebut diduga masih tersebar di sejumlah kawasan perairan Maratua.

 

"Di wilayah Maratua memang ada buaya. Karena itu masyarakat harus lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di perairan," kata Hermansyah.

 

BPBD Berau memastikan akan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, aparat keamanan, serta instansi terkait untuk mengidentifikasi keberadaan buaya yang menerkam korban. Langkah tersebut diharapkan menjadi awal penyusunan strategi mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

 

Sementara itu, Kepala BLUD UPTD Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan-Maratua mengaku baru menerima laporan mengenai insiden tersebut.   

 

"Kami baru mendapat informasi. Untuk tindak lanjut apakah akan dilakukan evakuasi seperti penanganan sebelumnya, masih akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Damkar Berau," pungkasnya.

Kini, kematian Saifuddin bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Tragedi tersebut juga menjadi peringatan bahwa ancaman buaya di Kabupaten Berau terus meluas. Pemerintah pun dituntut tidak sekadar merespons setelah musibah terjadi, tetapi menghadirkan langkah nyata agar keselamatan masyarakat pesisir tidak kembali dipertaruhkan. (sep/FN)