DPRD Nilai Polemik Rencana Merger STIPER dan UMB Karena Minimnya Transparansi
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Mayoritas Wakil Rakyta Bumi Batiwakkal menilai polemik rencana penggabungan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Berau dengan Universitas Muhammadiyah Berau (UMB) hingga difasilitasi melalui RDP oleh DPRD Berau, pada Senin (16/6/2025), lantaran kurangnya komunikasi dan transparansi dari pihak pengurus kampus terhadap dosen dan mahasiswa STIPER.
Menurut Ahmad Rifai bahwa rencana merger terkesan
hanya keputusan sepihak, yang tidak melibatkan unsur civitas academica secara
menyeluruh. Hal inilah yang kemudian menimbulkan penolakan, bahkan memicu aksi
demonstrasi dari mahasiswa STIPER sebelumnya.
“Itu yang kita dengar
dari curahan hati para dosen dan mahasiswa, sebenarnya tujuannya sama, ingin
menyelamatkan STIPER. Tapi karena tidak ada komunikasi dan keterbukaan,
akhirnya jadi polemik. Ini masalah internal STIPER yang seharusnya diselesaikan
secara internal juga, karena pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan
terhadap perguruan tinggi,” ujar anggota DPRD Berau, Ahmad Rifai.
Anggota DPRD lainnya,
Agus Uriansyah, juga menilai tidak ada landasan kuat yang mendesak untuk
melakukan merger. Ia menekankan bahwa STIPER yang sudah berdiri sejak 2004,
selama ini telah memiliki struktur lembaga, aset, dosen, dan mahasiswa aktif.
“Melihat usia
STIPER sudah 21 tahun berjalan.
Artinya, secara kelembagaan sudah terbentuk dan memiliki sistem sendiri. Maka
dari itu, harapannya kampus ini bisa untuk dipertahankan,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota
Dewan lainnya, Sakirman menambahkan, bahwa STIPER seharusnya tetap eksis untuk
mendukung program nasional, khususnya ketahanan pangan yang menjadi salah satu
fokus pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menyebut lulusan STIPER berpotensi
menjadi sumber daya manusia (SDM) penting di sektor pertanian.
Anggota DPRD Abdul
Waris juga menekankan pentingnya kajian sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan. Ia menyarankan agar tim yang sudah dibentuk untuk menyusun kajian
merger kembali diaktifkan dan bekerja maksimal.
“Kita perlu kajian
objektif. Dari situ bisa dilihat apakah STIPER masih mampu bertahan atau memang
harus merger. Idealisme memang penting, tapi kita juga harus berpikir realistis
soal dampak jangka panjangnya,” jelas Waris.
Wakil Ketua I DPRD
Berau, Subroto, menutup RDP dengan menegaskan bahwa opsi merger sebaiknya
menjadi langkah terakhir jika semua upaya mempertahankan STIPER tidak
membuahkan hasil.
“Kita tunggu hasil kajian yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Merger bukan solusi utama, tapi bisa jadi opsi terakhir jika STIPER benar-benar tidak mampu berjalan secara mandiri,” tegasnya.
RDP ini diharapkan
menjadi titik awal komunikasi terbuka antara pengurus kampus, dosen, mahasiswa,
dan pihak terkait lainnya dalam menentukan arah masa depan STIPER Berau.
(sep/FN/Advertorial)